Kisah Mengharukan Anak Kuda dan Boneka Beruang

Vemale.com - Kisah mengharukan ini benar-benar terjadi di Dartmoor National Park. Dilansir dari situs Dailymail.co.uk, seekor anak kuda bernama Breeze yang baru lahir kehilangan ibunya. Sebagai bayi mamalia, anak kuda ini membutuhkan kehadiran ibunya untuk memberi perlindungan dan kasih sayang, tetapi dia sudah tidak memiliki ibu. Tim medis khusus hewan menemukan Breeze yang baru lahir tidak sadarkan diri karena dehidrasi setelah seorang diri mencari ibunya.
Di taman nasional tempatnya lahir, bayi kuda poni yang kehilangan ibunya ini berjuang mencari ibunya. Naluri alami kuda mirip seperti manusia, ingin berada di dekat ibunya untuk mendapat kasih sayang. Tim taman nasional sudah berusaha mencari keberadaan ibu Breeze, tetapi tidak ditemukan. Anak kuda poni itu akhirnya dirawat dengan infus, obat-obatan dan susu.
dailymail
(c) dailymail.co.uk
"Sayang sekali Breeze tidak punya ibu untuk merawatnya," ujar Syra Bowden, direktur eksekutif taman nasional. "Mereka (anak kuda) sama seperti bayi manusia, ingin mendapatkan kenyamanan," lanjutnya. Karena itu, tim medis taman nasional memberikan mainan untuk Breeze agar dia bisa merasa nyaman.
Upaya tim membuahkan hasil, Breeze tampak nyaman dengan sebuah boneka beruang yang cukup besar. Boneka beruang itu seolah bisa menggantikan kehangatan dan kenyamanan dari ibu yang dia cari. Beberapa foto menunjukkan bagaimana Breeze tidur di pangkuan boneka beruang, mengendus wajah boneka dan bisa bermanja-manja dengan boneka menggemaskan tersebut.
dailymail
(c) dailymail.co.uk
Walaupun boneka itu hanya benda mati, cinta bisa datang dari media apapun. Dengan kenyamanan yang didapat, kesehatan Breeze makin lama makin baik. Syra Bowden mengatakan bahwa kondisi Breeze sangat menyedihkan saat pertama kali ditemukan, tetapi sekarang dia sudah makin sehat dan terus tumbuh menjadi anak kuda yang kuat.
Sedikit cinta dan kasih sayang dari benda mati bisa membuat bayi kuda ini makin sehat. Jika benda mati bisa memberikan rasa nyaman, bukankah seharusnya kita bisa memberikan lebih banyak cinta untuk sesama manusia?
Semoga kisah nyata ini bisa menjadi inspirasi kita semua.
(vem/yel)
sumber : www.kapanlagi.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Assalamu alaikum …

Selamat pagi buat kita smua yg slalu di berkahi oleh Allah SWT *aamiin*
Hemmm.. pagi ini aku mau nge-share buat kamu para wanita muslimah jangan terlalu menaruh hati pada lelaki yg belum menjadi muhrim mu yah ehee aku pernah ngerasain itu dan Astagfirullah Allah nunjukkin Kuasa-Nya ke aku klo itu bener-bener merugikan bagi kita loh girls 
Senengnya cuma sesaat dan hanya dosa dan perasaan sakit yg di dapat :’) jadi aku juga lagi belajar buat bangkit lagi \(^_^)/ insyaAllah klo kita selalu berharap hanya pada-Nya kita akan merasakan tenang dan damai batin dan hati ini ehehee ga ada lagi tuh yg namanya sakit hatii karena lelaki *iuhhhh*
Tapi kita juga ga boleh sepenuhnya menyalahkan kaum Adam yaa girls manusia ga pernah luput dari salah jadi kita kaum Hawa juga pasti tempatnya salah kan ? ehee dari sini kita wajib introspeksi diri *jadilebihbaik* dengan bismillahirrohmanirohim..
Keep Istiomah di jalan-Nya 
Yupss… itu yg sekarang lagi aku jalanin walaupun agak tersendat-sendat karena hawa males yg di samping ku tapi aku ada niat baik buat berubah lebih baik lagi. Dulu aku pernah loh yg ngerasain namanya sakit hati, nangis, di kecewain, dan apalah itu yg “katanya bumbu-bumbu cinta” tapi aku sadar itu aku rasain karna aku ngelanggar ajaran-Nya :’) jadi aku mengajak kalian nih girls buat bangkit menjadi seorang wanita muslimah yg ber-Istiqomah di jalan Sang Illahi. Aku ga munafik girls kalo aku juga mau kaya wanita-wanita lain di luar sana yg slalu berdua kemana-mana sama sang pacar (akudulujugapacaran) yaa kangenlah gtu tp aku berfikir jernih lagi buat apa aku bahagia-sedih-nangis-bahagia lagi-kecewa lagi dengan lelaki yg belum menjadi muhrim ku? Yaa kan, sekuat hati dan fikiran aku menepis smua bisikan syeitan yg ada di diri ku :’) . Aku nge-share begini karena aku sakit hati sesakit hatinya wanitalah *alahlebayyee* yaa begitulah sampe sekarang aku pun males klo denger nama si sebut aja “kecoa” ehee karna aku benci sama binatang kecoa. Kecoa ohh … terimah atas rasa sakit yg sudah anda beri ke saya yah berkat ini saya bisa lebih berfikir jernih dan bangkit sebangkit-bangkitnya. Smoga kelak di kehidupan saya ke depan Allah ga mempertemukan saya dengan Kecoa-kecoa lain seperti anda ehehee saya ga jahat kok dan anda juga ga jahat cuma cara anda itu yg buat saya yahh sudahlah saya tak perlu membahas tentang Kecoa seperti anda :p

Nahlohh.. aku jadi curhat kan Astagfirullah ehee maaf yah 
Ya begitulah intinya, sekarang aku mau focus ke depan tentang kuliah nanti, pekerjaan, bahagiain orang tua, dan yg terakhir aku ingin di lamar dengan lelaki soleh yg dikirim Allah SWT sebagai balasan kesetian ku akan cinta suci dari-Nya ehehee*aamiin*
Yoweslah, mari kita sama-sama bangkit yah girls !!! dengan bismillahirrihmanirohim.

Wassalamu alaikum ..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


10 Petuah Metamorfosis Diri Menjadi Lebih Baik




Vemale.com -
Regina Brett, seorang penulis buku 'Be The Miracle' mengatakan bahwa, "Kita tidak bisa melakukan semuanya dan apa yang bisa kita lakukan, kita tidak bisa lakukan dengan sempurna dan itu bukan masalah Yang perlu kita lakukan adalah mengawali, di sini, sekarang. Dan bila kita melakukannya, itu akan menjadi perubahan besar bagi dunia.
Brett membagikan hal untuk membantu Anda mencapai potensi maksimal Anda.
1. Perhatikan Diri Anda Dulu
Jangan menghargai komitmen Anda terhadap diri Anda sendiri lebih sedikit daripada menghargai komitmen pada orang lain. Jangan memberikan sampai tidak ada yang tersisa untuk Anda. Lakukan hal yang mendukung kebahagiaan Anda dengan bertanggung jawab. Tepati janji Anda pada diri sendiri. Bila Anda bisa memenuhi tanggung jawab pada diri sendiri, Anda akan mampu memberikan lebih pada orang lain.
2. Perbaharui Diri Anda Setiap Hari
Setiap bangun pagi, Anda memiliki kesempatan untuk terlahir kembali. Saat Anda mengalami hari yang buruk, keesokan paginya Anda akan bangun dan pilihlah untuk tidak ingin mengalami hal yang sama. Kemarin biarlah menjadi kemarin dan hari ini Anda sudah lebih siap untuk hal baru, begitu pula esok harinya.
3. Fokus Pada Pencapaian
Bila Anda ingin mencapai hal yang tidak mungkin, fokus pada yang mungkin. Kita semua punya mimpi. Beberapa rasanya sudah di luar kemampuan kita. Mulailah dengan melakukan yang bisa Anda lakukan. Mungkin Anda ingin jadi penulis. Kirim tulisan Anda ke kontes-kontes. Mulai hari ini, apa yang nampaknya tak bisa Anda lakukan mungkin sudah dekat dengan usaha Anda.
4. Berjuang Untuk Melakukan Yang Terbaik
Semua orang punya kelemahan, tapi bagaimana menjadikan segenap diri kita menjadi potensi yang membuat kelemahan itu tidak lebih hebat dari kepribadian kita. Lakukan apapun yang Anda bisa dan lakukan yang terbaik.
5. Perhatian Pada Satu orang
Anda tidak bisa menyenangkan banyak orang, tapi Anda bisa membuat seseorang bahagia dan itu sudah lebih dari cukup. Kadang kita terlalu dipusingkan oleh kebutuhan dan keinginan di dunia. Anda tidak mungkin bisa merangkul segalanya, namun fokus untuk seseorang merupakan suatu kontribusi yang bagus.
6. Kebahagiaan Mengelilingi Anda

Rahasia untuk hidup adalah tidak ada rahasia. Anda hanya perlu menyadari karunia apa yang sedang Anda nikmati meski itu hanya sehela nafas. Nafas adalah bentuk kesempatan dan tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan. Berbahagialah dan temukan karunia apalagi yang ada dalam hidup Anda.
7. Anda Sudah Memperoleh Jawaban Yang Anda Butuhkan.
Bila Anda belajar untuk mendengarkan diri Anda, Anda akan mendengar sesuatu yang mengejutkan. Anda sudah punya jawaban dalam diri Anda sendiri. Anda akan menemukan kapan waktunya harus berkata ya dan kapan harus berkata tidak.
8. Pilihan Adalah Kunci
Buatlah pilihan yang tepat dan baik menurut Anda. Seperti kata Albus Dumbledore dalam kisah Harry Potter. Pilihan kita yang menunjukkan siapa kita, lebih dari kemampuan kita." Hidup adalah serangkaian pilihan. Menuju ke manapun yang Anda mau membutuhkan pemikiran dan pilihan. Kapan terakhir kali Anda menentukan pilihan untuk hidup Anda sendiri?
9. Kecukupan
Tidak ada yang benar-benar luar biasa untuk ditemui dan tidak ada keajaiban yang tidak jelas untuk Anda harapkan. Tidak ada hidup yang terlalu singkat tanpa arti. Coba lihat apa yang kehidupan tawarkan pada ANda hampir setiap hari. Luangkan waktu untuk mengetahui apa yang menjadi karunia dalam hidup Anda.
10. Lakukan Dengan Berani
Bagaimana Anda beralih dari ketakutan Anda? Kadang Anda mengambil langkah kecil seperti bayu, kadang Anda mengambil langkah besar, hingga akhirnya takdir menjawab dan ketakutan itu lenyap. Ketakutan dan keberanian kadang datang beriring-iringan. Yang paling penting bukanlah kita yang sedang takut, melainkan apa yang kita lakukan saat kita takut.
Kadang kita membutuhkan banyak nasehat baik untuk hidup. Meski kita pernah memikirkannya dan mengatakannya untuk menyemangati orang lain, kita bisa saja lupa dengan nasehat itu karena benak dan batin kita sudah tertutup oleh ketakutan dan rasa pesimis. Semoga 10 hal di atas bermanfaat untuk Anda yang sedang membangun diri Anda, Ladies.  
(vem/gil)

sumber www.kapanlagi.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS



Keajaiban Cinta Hanyalah Ilusi



Vemale.com - Kisah ini bukanlah kisah cinta yang indah, tetapi tidak ada salahnya menjadi bahan bacaan atau renungan bahwa cinta tidak selamanya membawa bahagia.
Namaku Ernis, saat ini usiaku 23 tahun. Lima tahun yang lalu, aku berkenalan dengan seorang pria, sebut saja namanya Galih. Usia kami terpaut setahun, kami pertama kali berkenalan pada saat ospek di kampus. Dia adalah seniorku, dan kami berada pada jurusan yang sama.
Sejak hari pertama ospek, dia sering berbuat ulah padaku. Kadang dia sering membuatku kesal dengan menyuruhku membawa barang ini itu saat ospek. Membawa onde-onde tanpa wijen, membawa donat selai durian, dan barang lain yang tidak wajar. Aku akan dihukum jika keesokan hari tidak membawanya. Jujur, aku kesal padanya, dia satu-satunya senior yang merepotkanku, sementara senior yang lain bersikap biasa saja.
Pada hari terakhir ospek, Galih menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Aku agak heran karena selama seminggu, tidak ada satupun kelakuannya yang manis di mataku. Tawaran itu sempat kutolak, tetapi dia meyakinkan bahwa aku akan sampai ke rumah dengan selamat dan tidak kekurangan apapun. Sebuah gombalan yang akhirnya membuatku merasa aman diantar olehnya.
Galih menepati janjinya untuk mengantarku dengan selamat. Sebelum dia berpamitan, dia meminta maaf atas sikap menyebalkannya padaku selama ospek. Dia mengatakan bahwa semua itu dilakukan untuk memancing perhatianku saja, bahwa sebenarnya dia menyukaiku sejak hari pertama ospek. Satu kalimat yang langsung membuat jantungku berdebar tidak karuan. Singkat cerita, sebulan setelah kejadian itu, kami berpacaran.
Aku menikmati masa kuliah dengan menyenangkan. Bersama Galih, aku menikmati manisnya jatuh cinta. Kami sudah seperti teman, keluargaku juga merestui hubungan kami. Kadang aku berbincang dengan ibu Galih yang tinggal di luar kota. Intinya, dari pihak keluarga, tidak ada rintangan sama sekali. Jika diibaratkan, hidupku seperti gula-gula, sangat manis dan menyenangkan. Saat jatuh cinta, semua hal terasa ajaib.
Hingga aku sadar bahwa keajaiban itu kadang hanya ilusi..
Tepat seminggu sebelum ulang tahunku, Galih menghilang begitu saja. Aku berpikir, mungkin dia akan memberi kejutan. Tetapi sudah dua minggu berlalu, dan dia tidak pernah muncul. Saat kutelepon keluarganya, mereka juga mengatakan bahwa tidak ada kabar darinya. Demikian juga dengan teman-teman Galih. Sudah tentu aku mencemaskannya. Hingga suatu siang, aku mendapat telepon dari Galih bahwa dia ingin hubungan kami berakhir.
Aku merasa tidak ada yang salah dalam hubungan kami, selama ini semua baik-baik saja. AKhirnya aku tahu bahwa Galih menyukai wanita lain. Wanita yang lebih tua lima tahun darinya, wanita yang sudah mapan dan lebih kaya dariku. Wanita yang tidak keberatan membelikan mobil terbaru untuknya tanpa pikir panjang. Ternyata hanya begitu saja, hanya dengan alasan itu saja Galih meninggalkanku. Ternyata dia tidak sebaik apa yang aku pikirkan, dia tidak semanis senyum yang setiap pagi aku lihat. Bodoh sekali aku tidak menyadarinya sejak awal, aku bahkan sempat berpikir betapa bodoh dia meninggalkanku.
Sudahlah, lebih baik aku tahu sejak awal.
Aku bersyukur Tuhan membuka mataku sebelum hubungan kami lebih serius.
Jika ada yang bertanya apakah aku dendam pada Galih? Aku kecewa, tetapi tidak sampai menyimpan dendam untuknya. Daripada aku menyimpan dendam, lebih baik aku memikirkan masa depanku. Lebih baik aku mempersiapkan hati dan pikiranku untuk pria lain yang lebih pantas bersanding denganku.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran untukku dan teman-teman pembaca.
(vem/yel)

sumber www.kapanlagi.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dia Pergi Meninggalkan Cinta Untukku




Vemale.com - Semoga peristiwa di bawah ini membuat Anda belajar lebih bersyukur untuk apa yang Anda miliki. Cinta sejati adalah dambaan siapa saja yang hidup di dunia ini.
Aku membencinya. Kata itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir di sepanjang kebersamaan kami. Meskipun aku telah menikahinya, aku tidak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah dengan rasa terpaksa, aku tidak pernah menunjukkan sikap benciku kepada suamiku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tidak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan untuk meninggalkannya tapi aku tidak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orang tuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri semata wayang mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang sangat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga aku merasa dia sudah berkewajiban membuatku bahagia dan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tidak ada seorang pun yang berani melawan keinginanku. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tidak suka handuknya yang basah diletakkan di tempat tidur. Aku sebal melihatnya meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket. Aku benci ketika dia memakai komputerku untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan aku juga marah kalau dia menghubungiku berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, aku tidak mau mengurus anak. Awalnya, dia mendukung keputusanku untuk minum pil KB. Rupanya dia menyembunyikan keinginan begitu dalam untuk memiliki anak. Hingga suatu hari aku lupa minum pil KB. Dia tahu namun membiarkannya. Singkat cerita, aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Itulah kemarahan terbesarku padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh dia melakukan semua keinginanku.
Waktu berlalu hingga anak-anak tidak terasa berulang tahun yang ke-8. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, dia mengingatkan aku kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya. Aku memilih pergi ke mall dan tidak hadir di acara ibu.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, dia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Dia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, aku memutuskan untuk pergi ke salon. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, aku terkejut ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam, aku tidak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tidak bisa kutemukan aku menelepon suamiku.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tidak punya uang kecil. Maka kuambil uang dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu dan kalau tidak salah aku meletakkannya di atas meja kerjaku.” katanya sambil menjelaskan dengan lembut.
Aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. tidak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi. Meski masih kesal, aku mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, khawatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. tidak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering, suamiku sudah mengangkat teleponku. Aku mulai merasa marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, Ibu. Apakah ibu istri dari Bapak Arman?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi yang memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini dia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.
Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tidak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib, terdengar seorang dokter keluar menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Dia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri. Serangan stroke lah yang menyebabkan kematiannya. Sama sekali tidak ada airmata keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertuaku. Anak-anak memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tidak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di mataku dan mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tidak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tidak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku.
Aku ingat betapa aku tidak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tidak pernah mengatur pola makannya. Dia selalu mengatur apa yang kumakan, memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan, dan dia pula yang tidak pernah absen mengingatkanku makan teratur. Bahkan terkadang dia menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tidak pernah tahu apa yang dia makan karena aku tidak pernah bertanya. Aku tidak tahu apa yang dia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu dia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tidak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tidak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Dia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.
Saat pemakaman, aku tidak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun jasadnya. Aku tidak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tidak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan. Aku terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku yang membujukku makan kalau aku sedang malas makan. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa. Ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap dia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah karena semua terlihat normal meskipun dia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana dan meninggalkan wangi yang membuatku rindu. Aku marah karena tidak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tidak ada lagi yang membujukku agar tenang dan tidak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan padaku dan meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tidak pernah bekerja. Yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang dia transfer ke rekeningku untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tidak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tidak menyangka bahwa ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Aku tidak pernah sedikitpun menggunakan gaji itu untuk keperluan rumah tangga. Yang aku tahu sekarang, aku harus bekerja atau anak-anakku tidak akan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Dia membawa banyak sekali dokumen. Notaris itu memberikan surat pernyataan bahwa suamiku mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak. Yang membuatku tidak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab dan mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tidak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Tuhan memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu selamanya.
Tetapi aku tidak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tidak ingin kalian susah setelah aku pergi. Tidak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap kamu bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tidak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau dia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya, dia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tidak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tidak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

sumber www.kapanlagi.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Kisah Cinta Dalam Secangkir Kopi Asin



Vemale.com -
Ini adalah kisah cinta antara kakek Arun dan nenek Gemma. Mendengar kisah cinta mereka, aku menyadari bahwa ternyata cinta sejati itu memang ada. Dan ingin segera kulupakan sakit hatiku karena kisah cintaku sendiri.
Semoga cerita ini juga bisa menyembuhkan kekecewaan akan cintamu saat ini...
Nenekku populer sebagai gadis yang tercantik di kotanya saat itu. Banyak pemuda yang menaruh hati pada nenek dan bersedia memberikan cintanya. Mulai dari yang tampan hingga yang kaya berusaha menarik perhatian nenek, tetapi nenek tak pernah tertarik pada semua pemuda itu.
Hingga suatu saat kakek bertemu nenek di sebuah pesta. Kakekku adalah pemuda yang biasa-biasa saja. Tidak tampan, dan tidak kaya. Hari itu ia mengumpulkan semua keberanian dirinya untuk menyapa nenek. Mengajaknya sekedar menikmati secangkir kopi di sebuah coffee shop di ujung kota. Entah mengapa nenek mengiyakan ajakannya. Berharap segera keluar dari hiruk pikuk pesta.
Di sana mereka duduk berhadapan, dengan wajah cemas kakek berharap bisa berbincang banyak dengan nenek yang saat itu cuek dan tak terlihat tertarik sama sekali. Kata nenek sih, ia menerima ajakan kakek karena telah merasa bosan dengan pesta tersebut. Nenek menggunakan alasan kakek agar ia bisa pergi dan segera pulang. Di tengah perbincangan yang membisu, kakek memanggil pelayan coffee shop tersebut. "Pak, bolehkah aku meminta sedikit garam untuk dimasukkan pada kopi ini?" Semua orang yang ada di sekitar kakek dan nenek keheranan. Untuk apa garam dimasukkan ke dalam secangkir kopi?
Hal tersebut berhasil menarik perhatian nenek. "Untuk apa kau menaruh garam di dalam kopimu?" tanya nenek.
"Oh... ini hanya sebuah kebiasaan lama ayahku. Dulu aku tinggal di sebuah desa dekat pesisir pantai. Di sana kami biasa menambah garam pada kopi agar tetap ingat pada laut, tempat tinggal kami. Dan, hari ini aku rindu kampung halamanku. Aku juga rindu pada orang tuaku yang sudah meninggal. Agar aku tak lupa akan mereka, aku terbiasa menaruh garam di dalam kopiku," tutur kakek.
Nenekpun merasa tersentuh. Tak pernah ditemui pemuda semanis kakek. Sejak saat itu, mereka selalu pergi berkencan dan bercerita panjang lebar. Merekapun akhirnya menikah. Hidup bahagia, hingga punya banyak anak dan cucu.
Suatu kali, di ulang tahun pernikahan ke-50, kakek akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Di sebuah kotak berisi perhiasan kado ulang tahun pernikahan, ditinggalkannya secarik surat untuk nenek. Karena mata nenek sudah kurang awas untuk membaca, maka ia memintaku untuk membacanya. Kira-kira beginilah isi surat itu...
Gemma yang terkasih,
Aku meminta maaf akan sebuah kesalahan yang sangat besar, yang pernah kulakukan sepanjang hidupku. Aku menyimpan sebuah kebohongan besar selama ini. Ingatkah saat aku mengajakmu ke coffee shop hari itu? Saat itu aku sangat gugup sekali. Saking gugupnya aku ingin meminta tambahan gula untuk kopiku. Namun, entah kenapa yang terucap adalah aku meminta garam.
Aku tak ingin terlihat konyol di depanmu. Dan akhirnya aku mengarang cerita itu. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Kau terlihat begitu cantik dan sempurna, hingga aku tak ingin melepaskanmu.
Tetapi, percayalah sayang... bahwa sepanjang hidupku aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan diriku. Sehingga sekalipun setiap pagi kau buatkan kopi asin itu, semua selalu terasa manis karenamu. Jujur saja, kau mungkin tak akan suka rasanya, karena sebenarnya rasanya sungguh tidak enak.
Gemma, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu.
Air mata nenekpun turun membasahi pipinya. Ia sadar betapa besarnya cinta kakek padanya. Sejak saat itupun ia selalu menambahkan garam di dalam kopinya. Setiap kali ada orang yang bertanya bagaimanakah rasa kopi bila ditambah garam, ia akan menjawabnya "rasanya manis sekali :)"

sumber www.kapanlagi.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS



Cinta Dalam Hati



Vemale.com -
Sejak awal, keluarga Devi menolak kehadiran Mario. Ia berasal dari keluarga yang biasa saja, tidak populer dan bukan keluarga terpandang. Keluarganya khawatir bahwa Mario tak dapat membahagiakan Devi kelak, sehingga akhirnya cinta mereka berdua harus disembunyikan dari semua orang di sekelilingnya.
Karena tekanan keluarga tersebut Devi menjadi ragu akan cinta Mario. "Sebesar apakah cintamu padaku?" tanyanya suatu hari pada Mario. "Aku tak pandai berkata-kata, tetapi suatu saat nanti kau akan tahu sebesar apa cintaku..." kata Mario. Jawaban itupun membuat Devi jadi semakin bimbang. Ia berpikir, mungkin keluarganya benar. Mungkin ia harus merelakan cintanya dengan Mario dan tidak berusaha mempertahankannya lagi.
Kemarahan Devi terhadap jawaban Mario membuatnya tak ingin bertemu lagi dengannya. Ia mengacuhkan Mario dan membuatnya menderita rasa pedih karena patah hati.
Tak lama kemudian, Mario memutuskan untuk mengejar pendidikan ke luar daerah. Meninggalkan kota asalnya dan berusaha menyembuhkan lukanya.
***
Lima tahun berlalu, sekalipun Devi merasa kecewa terhadap Mario, ia tak bisa melupakannya walau sedetik saja. Di dalam hati, cintanya terhadap Mario masih kokoh tertanam di sana.
Teringat pada sebuah cafe kecil tempat mereka biasa bertemu diam-diam, Devipun tertegun. Tanpa disadari sebuah mobil melaju kencang di depannya. Mobil yang dikendarainyapun tak sanggup menghindar. Ia dilarikan ke rumah sakit dan harus mendapat penanganan serius.
"Ia sudah melewati masa krisisnya, bu. Tetapi ia akan kehilangan suara, selamanya..." jelas dokter menghancurkan hati kedua orang tua Devi. Sejak saat itupun Devi lebih banyak memilih menyendiri. Usulan orang tua untuk pindah ke desapun diterimanya.
***
Hari itu sahabat Devi datang membawa sebuah amplop. Sambil bercerita girang ia tak mempedulikan Devi yang masih terbengong mendengar kata Mario. "Kamu tahu nggak sih ternyata Mario sudah pulang sebulan lalu. Aku juga kaget waktu menerima undangan ini, makanya aku cepat-cepat menyetir mobilku ke sini. Dia ingin aku menyampaikan amplop undangan pernikahannya." kata sahabatnya.
Devi tertegun. Air matanya mengalir deras dan ia kesal karena ia tak dapat berkata apapun. Ia hanya bisa menyimpan semuanya dalam hati. Berlarilah ia ke halaman dan duduklah ia di bawah pohon tempat ia biasa melamun. Dibukanya amplop berwarna biru terang itu perlahan. Ia sudah pasrah dan akan rela menerima kecewa yang pantas diterimanya.
Tak terbayangkan. Saat ia membuka undangan tersebut, namanyalah yang tertera di sana. Dengan undangan tersebut, Mario melamarnya. Memintanya menjadi mempelai baginya minggu depan nanti. Devipun akhirnya tahu bahwa Mario telah mempersiapkan semua tetek bengek pernikahan dalam waktu sebulan ini. Ia juga tahu benar bagaimana kondisinya lewat sahabatnya.
"Dan inilah jawaban pertanyaanmu hari itu. Inilah besarnya cintaku padamu..." suara Mario mengagetkan dari belakang.
Berlarilah Devi dan memeluk Mario erat. Dengan bahasa isyarat yang telah dipelajarinya, ia mengucapkan "Aku mencintaimu, Mario..."

sumber www.kapanlagi.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS